Jumat, 09 Oktober 2015

Laporan Besar Biokimia Gizi : Pemeriksaan Kadar Hemoglobin



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hemoglobin merupakan protein yang banyak mengandung zat besi dan memiliki afinitas terhadap oksigen untuk membentuk oksihemoglobin di dalam eritrosit. Dari mekanisme tersebut dapat berlangsung proses distribusi oksigen dari pulmo menuju jaringan (Pearce, 1991).
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.  Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Bila kadar hemoglobin berkurang di bawah normal, maka akan mengganggu aktifitas dalam tubuh. Suatu keadaan dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari harga normal (13 gr %) disebut sebagai anemia (Ganong, 2002).
Sintesis Hemoglobin berlangsung dalam sumsum tulang. Sintesis hemoglobin dimulai pada tahap eritroblast dan berlangsung hingga tingkat retikulosit dan kemudian menjadi eritrosit matur. Sel darah muda yang telah keluar dari sumsum tulang tetap membentuk hemoglobin pada hari berikutnya. Sintesis tersebut dimulai dari kondensasi glisin dan suksinil koenzim A (CoA) dibawah aksi enzim kunci δ-aminolevulinic acid sintetase (ALA-sintetase) untuk membentuk ALA (Amino Levulinic Acid) selanjutnya ALA mengalami dehidrasi menjadi phorphobilinogen oleh enzim ALAD (ALA Dehidratase). Setelah melewati beberapa tahapan reaksi, senyawa phophobilinogen mengalami perubahan bentuk menjadi protoporfirin. Salah satu senyawa protoporfirin, yaitu protoporfirin IX akan berikatan dengan Fe membentuk heme. Heme bereaksi dengan globin dimana 4 molekul heme berikatan dengan satu molekul globin dan ion logam Fe¬2+ dengan bantuan enzim ferrochelatase membentuk hemoglobin (Hoffbrand dan Petit, 1987  ; Palar, 1994 ; Darmono, 1995 ; Sadikin, 2001). Kandungan Hb normal rerata adalah 16 g / dL pada pria dan 14 g / dL pada wanita yang semuanya terdapat pada eritrosit ( Ganong, 2001 ). Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menyebabkan anemia.


1.2 Landasan Teori

   A.    Pengertian Hemoglobin
Hemoglobin adalah metalprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul haemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-BTCKIxldQhTiuzuZT8L7-JCUJMNa4sNubF9S-tGFJaO2D6NJh5pGjaLmgnGtDlUYSuJ3EnJ7w4vemiKwqMxZNPy7Uv8hkMi51H1AuVI_HL7pua9H6o5SLBlHynKe53ktXe3I2lrmK6Hh/s1600/image006.jpg
 Gambar  3. Hemoglobin Molecule
Hemoglobin adalah pigmen merah dan menyerap cahaya maksimum pada panjang gelombang 540 nm. Jika sel darah merah dalam kosentrasi tertentu mengalami lisis, terjadi pembebasan hemoglobin yang dapat diukur secara spektrofotometris pada panjang  gelombang ini yang konsentrasinya setara dengan densitas optis (Ronald A. Sacher. 2004).
   B.     Fungsi Hemoglobin
Fungsi hemoglobin antara lain :
1)      Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan tubuh.
2)      Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawa ke seluruh tubuh untuk dipakai sebagai bahan bakar.
3)      Membawa karbondioksida dari seluruh jaringan tubuh sebagai hasil metabolisme ke paru-paru untuk dibuang (Depkes RI. 1989).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOA8zM-d-jZ-UwnI2Y-ftfjuIM_JGX34oJX6_q8Ru2dhqGNyr3bmlqFVyB5hlmpM3Rw8aYBWN2x5EVOZY8VPK9BpoayY3KxRG9cWhoDXGEdjI2IQUyaMwaqeEpV4TUo8IhqbZJ0DnkCz6c/s1600/image008.jpg
Gambar 4 Fungsi Hemoglobin
    C.    Macam-Macam Hemoglobin
Hemoglobin normal mempunyai sepasang rantai alfa identitas jenis hemoglobin ditentukan oleh sepasang rantai yang lain, yaitu beta, gamma, dan delta. Struktur hemoglobin dinyatakan dengan menyebut jumlah dan jenis rantai globin yang ada (Widman, Frances K. 1995 : 56).
1).Macam-macam hemoglobin normal :
a.    Hemoglobin A
Ditemukan pada orang dewasa normal sekitar 92 – 95 %. HbA terdiri dari atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta.
b.    Hemoglobin A¬2
Ditemukan pada orang dewasa normal sekitar 2 – 3 %. HbA2 terdiri dari atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta.
c.    Hemoglobin F
Ditemukan pada janin dan bayi baru lahir. Pada orang dewasa hemoglobin F ditemukan sekitar 1 – 2 %. Hemoglobin F terdiri atas 2 rantai alfa dan 2 rantai gamma.



2).  Macam – macam Hemoglobin Abnormal
a.    Hemoglobin S
Jenis hemoglobin abnormal yang sering dijumpai adalah HbS. Pada HbS posisi keenam pada rantai beta tidak ditempati oleh glutamat tetapi oleh valin yang hidrofobik. Posisi keenam berada pada permukaan luar rantai yang saling berkaitan yaitu tempat rantai alfa dan rantai beta bertukar-tukar saat oksigenisasi dan deoksigenisasi.
b.    Hemoglobin C
Pada HbC posisi keenam rantai beta ditempati oleh asam amino lain yaitu lisin. Muatan positif pada lisin berinteraksi dengan gugusan bermuatan negatif didepanya. Hemoglobin cenderung membentuk gumpalan berbentuk roda sehingga menyebabkan eritrosit lebih kaku dan lebih muda pecah dari pada sel normal. (Widman, Frances K. 1995 : 60)
   D.    Sintesis Hemoglobin
Untuk mengangkut O¬2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 (karbondioksida) dari jaringan ke paru-paru, sel darah merah mengandung protein kusus yaitu hemoglobin. Setiap sel darah merah mengandung 640 juta molekul hemoglobin dan setiap molekul hemoglobin dewasa normal (HbA) terdiri atas empat rantai polipeptida a2b2, masing-masing dengan gugus hemnya sendiri. Sintesis hemoglobin dalam sel darah merah yang sedang berkembang, 65% hemoglobin disintesis dalam eritroblast, 35% stadium retikulosit sintesis hem terjadi banyak dalam mitokondria oleh sederet reaksi biokimia yang dimulai dengan kondensasi glisin dan suksinil koenzim A dibawah reaksi enzim kunci delta-amino laevulinik acid (ALA) sintetase yang membatasi kecepatan. Piridoksal fosfat (Vitamin B6) adalah koenzim untuk reaksi ini yang dirangsang oleh eritropoietin dan dihambat oleh hem. Akhirnya portofirin bergabung dengan besi untuk membentuk hem yang masing-masing molekulnya bergabung dengan rantai globin yang terbuat pada poliribosom. Kemudian tetrameter empat rantai globin dengan masing-masing gugus hemnya sendiri terbentuk dalam ”kantong” untuk membangun molekul hemoglobin. (Hoffbran dan Pettit. 1987 : 8)

   E.     Katabolisme Hemoglobin
Hemoglobin yang dilepaskan dari eritrosit dihancurkan oleh sistem retikuloendotelial. Mula-mula besi di lepas dan dikembalikan ke sumsum tulang untuk digunakan kembali dalam sintesis hem atau disimpan sebagai cadangan. Rantai globin dirombak dan asam amino disimpan untuk pembentukan protein. Sisa cincin porfirin dirombak menjadi biliverdin kemudian menjadi bilirubin yang diangkut ke hati dan dikonjugasi menjadi bilirubin diglukoronida. Dalam perjalanan ke hati bilirubin terikat pada albumin (bilirubin indirek). Peningkatan bilirubin indirek dalam plasma merupakan indikasi peningkatan destruksi eritrosit.( Widman, Frances K. 1995 :  )
Di dalam hati bilirubin dikonjugasi dengan asam glukoronat menjadi bilirubin diglukoronida atau bilirubin direk. Bilirubin indirek tidak larut dalam air, tetapi bilirubin direk larut dalam air dan dapat masuk ke dalam saluran empedu kemudian ke saluran cerna. Bilirubin diubah menjadi urobilinogen, urobilinogen ini sebagian besar direabsorpsi dan kembali ke dalam sirkulasi dan ke dalam hati untuk kemudian diekskresi melalui urine. Bila ada peningkatan destruksi hemoglobin dan peningkatan ekskresi bilirubin diglukoronida ke dalam saluran cerna, terjadi peningkatan ekskresi urobilinogen melalui urine dan feses. Peningkatan ekskresi urobilinogen merupakan petunjuk adanya proses hemolitik dan perombakan hemoglobin berlebihan (Widman, Frances K. 1995 : 37 – 38).
Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
 Hal-hal yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hemoglobin, antara lain sebagai  berikut :
  1.      Reagen
Reagen adalah bahan pereaksi yang harus selalu baik kualitasnya mulai dari saat  penerimaan, semua reagen yang dibeli harus harus diperhatikan nomor lisensi kadaluarsanya, keutuhan wadah atau botol atau cara transportasinya.
  2.      Peralatan
Alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan hematologi harus bersih dan steril terutama yang kontak langsung dengan tubuh pasien seperti jarum dan lancet. 
  3.      Metode
Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang mengikuti perkembangan metode  pemeriksaan dengan pertimbangan kemampuan laboratorium tersebut dan biaya  pemeriksaannya. Petugas laboratorium harus senantiasa bekerja dan mengacu pada metode yang digunakan, jika metode yang digunakan salah atau tidak sesuai maka akan  berpengaruh pada hasil pemeriksaan kadar hemoglobin.
  4.      Bahan pemeriksaan
Bahan pemeriksaan meliputi; cara pengambilan spesimen, pengiriman spesimen,  penyimpanan spesimen, dan persiapan sampel.
  5.      Lingkungan
Dalam hal ini dapat berupa ; keadaan ruang kerja, cahaya, suhu kamar, kebisingan, luas dan tata ruang.
  6.      Tenaga labratorium
Dalam hal ini yang diharapkan adalah petugas laboratorium harus mengusai alat dan teknik di bidang laboratorium.
  7.      Sampel
Kekeruhan dalam suatu sampel darah dapat mengganggu dalam fotokolorimeter dan menghasilkan absorbensi dan kadar Hb yang lebih tinggi dari yang sebenarnya. Kekeruhan semacam ini dapat disbabkan antara lain oleh leukositosis, lipemia, dan adanya globulin abnormal seperti pada macro iobulinemia. (Gandosoebrata, 1969)
Metode Sahli
Berikut ini akan dibahas mengenai metode hematin asam atau metode Sahli. Metode Hematin-Asam (Sahli) pada prinsipnya akan mengubah hemoglobin menjadi hematin asam, kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar dalam alat. Cara sahli ini banyak dipakai di Indonesia, walaupun cara ini tidak tepat 100%, akan tetapi masih dianggap cukup baik untuk mengetahui apakah seseorang kurang darah, terlebih lagi di laboratorium-laboratorium kecil yang tidak mempunyai fotokolorimeter . Kesalahan dalam melakukan pemeriksaan ini kira-kira 10 %. Kelemahan cara sahli ini adalah hematin asam itu bukan merupakan larutan sejati dan juga alat haemometer sukar distandardisasi. Selain itu, tidak semua macam hemoglobin dapat diubah menjadi hematin, misalnya karboxy hemoglobin, methemoglobin dan sullfhemoglobin (Depkes RI, 1989).
Metode ini juga memiliki kekurangan, ketidaktepatan metode ini disebabkan oleh  batang gelas dapat berubah warnanya bila sudah lama (Adam, Syamsunir, 1992).
Menurut Guyton dan Hall, 1997, penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0,1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosit. Kadar hemoglobin dalam darah sangat tergantung pada jenis kelamin dan umur seseorang, seperti berikut ini :
·         Pria dewasa : 13.2 - 17.3 g/100 ml darah
·         Perempuan : 11.7 - 15.5 g/100 ml darah
·         Bayi baru lahir : 15.2 - 23.6 g/100 ml darah
·         Anak usia 1-3 tahun : 10.8 - 12.8 g/100 ml darah
·         Anak usia 4-5 tahun : 10.7 - 14.7 g/100 ml darah
·         Anak usia 6-10 tahun : 10.8 - 15.6 g/100 ml darah

1.3 Tujuan Praktikum
            Untuk mengukur dan mengetahui kadar hemoglobin pada darah dengan menggunakan metode Sahli






BAB II
ALAT DAN BAHAN

Alat :
-          Hemometer Sahli

Bahan :
-          Reagen HCL 0,1 N
-          Sampel Darah

















BAB III
CARA KERJA


Cara Kerja (Metode Sahli) :

1.      Memasukkan kira-kira 5 tetes HCL 0,1 N kedalam tabung pengencer hemometer.
2.      Mengisap sampel darah dengan pipet hemoglobin sampai garis tanda 0.02 ml.
3.      Menghapus semua darah yang melekat pada ujung pipet.
4.      Mengalirkan darah dari pipet kedalam dasar tabung pengencer yang telah diisi larutan HCL 0,1 N, berhati-hati lah jangan sampai timbul gelembung udara.
5.      Mengangkat pipet itu sedikit, lalu menghisap HCL yang jernih dalam pipet 2-3 kali untuk membilas pipet.
6.      Mencampur isi tabung sampai homogeny memasukkan kedalam alat pembanding, didiamkan selama 5 menit untuk membentuk hematin asam.
7.      Menambahkan aquadest tetes demi tetes sampai warna larutan ditabung (setelah diaduk) sama dengan warna gelas dari alat pembanding.
8.      Membaca skala Hb dari yang terbaca pada skala tabung.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Praktikum
Diketahui :
-          Percobaan 1 = 11 mg/dl
-          Percobaan 2 = 12 mg/dl
Perhitungan :

B. Pembahasan
Kadar hemoglobin adalah salah satu pengukuran tertua dalam laboraturium kedokteran tes darah yang paling sering dilakukan. Kisaran normal hemoglobin dipengaruhi oleh berbagai variable dan kadar harus diinterpretasikan dalam hubungannya dengan beberapa faktor, yaitu kehamilan, penduduk pada daerah dengan ketinggian yang tinggi, latihan fisik, merokok dan penyakit yang berkaitan ( Bimantoro, 2011 ).
Pada praktikum kali ini digunakan metode Sahli untuk mengukur kadar Hb. Metode Sahli mengandalkan pembentukan asam hematin yang kemudian diukur kadarnya dengan cara membandingkan warna hasil pengenceran dengan warna standart. Pada langkah – langkah cara kerja menggunakan metode Sahli harus dilakukan penghisapan larutan HCl yang telah dicampur dengan darah yang kemudian dikeluarkan lagi dan diulang sebanyak 2-3 kali hal ini dimaksudkan untuk menghomogenkan larutan campuran darah dan HCl serta untuk memasukkan udara ( ). Setalah homogen, kemudian larutan campuran didiamkan selama kurang lebih 5 menit, hal ini dimaksudkan agar Hb bereaksi dengan HCl sehingga dapat terbentuk asam hematin dan kadar asam ini dapat dihitung dan yang sekaligus kadar Hb juga dapat diketahui.
Penggunaan HCl dalam praktikum kali ini bertujuan untuk melisiskan eritrosit sehingga Hb yang terdapat dalam eritrosit dapat keluar dan bereaksi dengan HCl membentuk asam hematin.
Pada metode Sahli membutuhkan ketelitian visualisasi praktikan dalam membandingkan warna yang diperoleh dari pengenceran dengan warna standart. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penilaian dalam pengambilan data sangat subjektif mengingat kemampuan visualisasi tiap individu berbeda – beda.
Pada praktikum penentuan kadar hemoglobin menggunakan metode sahli, kelompok kami mendapatkan hasil 11,5 mg/dl dari sampel darah laki-laki. Hal ini menunujukkan bahwa praktikan tersebut memiliki kadar hemoglobin yang rendah karena batas normal kadar hemoglobin untuk laki-laki adalah 13,2 – 17,3 mg/dl.
Kadar hemoglobin yang tinggi disebabkan karena keadaan hemokonsentrasi akibat dari dehidrasi, sedangkan kadar hemoglobin yang rendah berkaitan dengan berbagai masalah klinis. Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin tidak selamanya meningkat atau menurun secara bersamaan.
Pemeriksaan Hb dalam darah mempunyai peranan penting dalam diagnosa suatu penyakit, karena Hb merupakan saalah satu protein khusus yang terdapat dalam eritrosit yang berfungsi untuk mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Kegunaan Pemeriksaan Hb ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguang kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan Hb (anemia) atau kelebihan Hb (polisitemia). Hb bisa saja ada dalam keadaan terlarut dalam plasma. Akan tetapi kemampuan Hb untuk mengikat O2 tidak bekerja secara maksimum dan akan mempengaruhi pada faktor lingkungan.





BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Pada praktikum Biokimia Gizi tentang penentuan kadar hemoglobin menggunakan metode sahli, kelompok kami mendapatkan hasil 11,5 mg/dl dari sampel darah laki-laki. Hal ini menunujukkan bahwa praktikan tersebut memiliki kadar hemoglobin yang rendah karena batas normal kadar hemoglobin untuk laki-laki adalah 13,2 – 17,3 mg/dl.






DAFTAR PUSTAKA

Adam, Syamsunir. 1992. Dasar-dasar mikrobiologi dan Parasitologi untuk Perawat . Jakarta:
             EGC
Depkes RI. 1989. Hematologi. Jakarta.
Gandosoebrata, R. 1969.Penuntun Laboratorium Klinik . Jakarta : Dian Rakyat
Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Ganong, W. F., 2001, Fisiologi kedokteran, penerbit Buku Kedokteran EGC . Jakarta
Guyton & Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Hoffbrand, A. V dan Pettit, JE. 1987. Kapita Selekta Hematologi. Alih Bahasa : Ivan Darmawan.
             Jakarta : EGC.

Pearce, C.E., 1991 . Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT.Gramedia Pustaka Utama,
             Jakarta
Renie.2012.Laporan Akhir Hema. Diakses dari
http://lacunata.blogspot.com/2012/12/laporan
             akhir-hema.html.Tanggal
25 Desember 2014 pukul 16.49 WITA
Sacher, Ronald A. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium.

1 komentar:

  1. Permisi, izin salin sebagian tulisannya untuk tugas kuliah ya. Terimakasih banyak.

    BalasHapus